Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad AL Ghazali Ra

Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad AL Ghazali Ra

Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad AL Ghazali yang digelari Hujjat al Islam zain ad Din ath Thusiy, seorang pakar ilmu fiqih dari aliran madzhab Syafi,i. dilahirkan di Thus tahun 450 H ( 1058 M.}

Diceritakan bahwa orang tuanya adalah seorang yang saleh, yang tidak mau makan kecuali dari hasil tangannya sendiri. Ayahnya berasal dari Ghazalah ( nama dusun yang kelak menjadi sebutan bagi namanya Ghazali ). Dia bekerja memintal bulu domba, lalu menjualnya di tokonya sendiri. Ketika kematian datang menjemputnya, dia berpesan tentang Imam ghozali dan saudara lelakinya yang bernama Ahmad kepada seorang sahabatnya yang merupakan Ahli Tasawuf dan suka melakukan kebajikan, dimana dia berkata kepadanya : “Sesungguhnya aku kesulitan yang sangat besar tentang pelajaran menulis dan aku akan sangat senang untuk menemukan apa yang terlewat dariku di dalam kedua orang anakku ini. Dan tidaklah mengapa bagimu, jika kamu menghabiskan semua yang aku tinggalkan untuk mereka berdua dalam hal ini”.

Ketika dia meninggal dunia, mulailah sang sufi mengajar mereka berdua sampai habis warisan yang secuil yang telah ditinggalkan untuk bapak mereka berdua; maka dia berkata kepada mereka :

“Ketahuilah oleh kalian berdua, bahwa sesungguhnya aku benar-benar telah membelanjakan apa yang menjadi hak kalian berdua, sementara aku hanyalah seorang lelaki miskin. Tidak ada hartaku yang dengannya aku dapat membantu kalian berdua. Hendaknya kalian berdua berlindung kepada sebuah madrasah, karena sesungguhnya kalian berdua adalah penuntut ilmu sehingga kalian akan mendapatkan kekuatan yang akan membantu kalian diatas waktu kalian.”

Kemudian keduanya melakukan hal itu dan itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan tingginya tingkatan mereka. Imam Al ghozali menceritakan hal tersebut dengan mengatakan :

”Kami menuntut Ilmu karena selain Allah swt; lalu aku menolak agar itu hanya karena Allah swt.”

Diceritakan bahwa kedua orang tua Imam Al Ghazali sering mengunjungi para ahli fiqih, duduk-duduk bersama mereka, meluangkan diri untu melayani mereka, menemukan kebaikan dalam diri mereka dan membelanjakan apa yang mungkin baginya untuk mereka. Jika dia mendengar ucapan mereka, dia menangis dan tertunduk dan selalu memohon kepada Allah swt; agar dia diberi rezeki berupa seorang anak yang dapay memberi tuntutan dan menjadikannya seorang pakar ilmu fiqih dimasanya dan merupakan orang segenerasinya. Adapun Imam Ahmad merupakan seorang pemberi tuntunan yang dapat melunakkan gendang telinga, ketika mendengar wejangannya dan menggetarkan sanubari para hadirin dalam pertemuan zikirnya.

Di masa kecilnya Imam Al Ghazali mengaji ilmu Fiqih kepada Ahmad bin Muhammad ar – Razhani; kemudian setelah itu,beliau belajar di sekolah yang diasuh ulama besar Abu Nash Ismail. Di luar jam sekolah, beliau menyempatkan diri belajar pada sufi besar Syekh Yusuf Al-Nassaj ( wafat 487 H/1067 ). kemudian dia menuju Naisabur dan menetap di kediaman Imam al Haramain Abu al Ma’aliy al Juwainiy, di mana dia berusaha dengan tekun dan kesunguhan hati sampai dia betul-betul menguasai bidang madzhab, khilafiyah, perdebatan, manthiq, membaca ilmu hikmah, dan filsafat, mengambil hikmah dari semua itu, memahami ucapan semua pakar ilmu tersebut, memberikan sanggahan dan menggagalkan berbagai klaim yang mereka ajukan, dan untuk setiap bidang dari berbagai ilmu pengetahuan itu dia mengarang banyak kitab yang mempunyai susunan dan tematis yang sangat menawan. Di Naisyabur, beliau juga belajar tasawuf kepada Syekh Abu Ali Al-Fadhi bin Muhammad bin Ali Farmadi.

Imam Al Ghazali merupakan figure seorang yang sangat genius, pandangan luas, kuat daya hafalnya, jauh dari tipu daya, begitu mendalam melihat suatu pengertian dan memiliki berbagai pandangan yang betul-betul beralasan.

Ketika Al Imam Al Haramain Al Juwainiy meninggal dunia, dia keluar melangkah ke arah wazir Nidham al Mulk, dimana tempat perjamuannya merupakan tempat berkumpulnya para pakar ilmu pengetahuan. Kemudian para Imam membentuk forum sebuah diskusi di kediamannya dan disinilah tampak pandangan Imam Al Ghozali kepada mereka, dimana mereka juga mengetahui keutamaannya serta mamberikan kekaguman dan ketakjuban di hati sang pemilik rumah, sehingga beliau berkenan memberikan mandate bidang akademis madrasah an Nidhamiyah di Baghdad kepadanya. Hadirlah dia dengan membawa perbaikan yang sangat besar. Orang-orangpun mencoba mengujinya dan keluarlah ucapan-ucapannya dengan lancar, sehingga kharismanya menjadi, bahkan mengalahkan kharisma para pejabat dan menteri. Manusipun kagum akan bagusnya perkataannya, sempurnanya ke utamaannya, fasihnya lisan, kajiannya yang mendalam, isyarahnya yang lembut dan merekapun menyukainya. Diapun menunaikan tugas mengajarkan ilmu dan menyebarkannya dengan berbagai pengajian, fatwa dan dalam bentuk karangan; kedudukan yang luhur, tingkatan yang tinggi, kata-kata yang enak didengar, nama yang terkenal, membuat berbagai contoh dengan semua itu dan keaktifan, sehingga menjadikan dia lebih utama, ketimbang semua kedudukan yang ada. Dan diapun meninggalkan semua itu dibelakang punggungnya, berangkatlah dia ke Baitullah A- Haram di Makkah Al Mukarromah; menunaikan ibadah haji pada bulan dzulhijjah tahun 488 H dan dia mengangkat saudaranya sebagai penggantinya untuk mengajar di Baghdad.

Diapun memasuki kota Damaskus, sekembalinya menunaikan ibadah haji pada tahun 489 H. menetap disana sementara waktu, kemudian menuju Baitul maqdis. Diapun mengunjunginya beberapa waktu dan kembali lagi ke Damaskus dan ber I’tikaf di menara sebelah barat Masjid Jami’ dan disanalah dia bermukim.

Secara kebetulan suatu hari dia memasuki madrasah al Aminah dan menemukan sang kepala madrasah berkata : “ Al Imam Ghazali berkata ……….”; dimana sang kepala sedang mengupas perkataan Al Imam Ghazali. Maka sang Imam Ghazali khawatir akan timbulnya kebanggaan dalam dirinya dan dia pun kemudian meninggalkan kota Damaskus. Lalu berkelana ke berbagai negeri sehingga dia memasuki negeri Mesir dan menuju ke Iskandariyah, bermukim disana beberapa lama. Dikatakan, bahwa dia berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan menghadap Sultan Yusuf bin Tasyifin, raja Maroko; ketika dia mendengar berita tentang keadilannya, namun kemudian sampai pula berita tentang kematiannya. Lalu dia melanjutkan pengembaraannya ke berbagai negeri sampai dia kembali ke Khurrasan, mengajar di madrasah Nidhamiyah di Naisabur sebentar, lalu kembali ke Thus. Dia menjadikan sisi rumahnya sebagai madrasah bagi para Ahli Fiqih, mengkaji tentang kesufian dan membagi waktunya untuk berbagai tugas seperti mengkhatamkan Al qur’an, berdiskusi dengan para Ulama, mengaji untuk para penuntut ilmu, melanggengkan Sholat, puasa dan ibadah-ibadah yang lain sampai dia beralih kepada rahmat dan keridloan Allah swt.

 

Mengenai pengembaraan spiritualnya, Imam Ghazali mengatakan :

 

”Setelah semua kegelisahan itu, perhatianku ku pusatkan pada jalan sufi. Ternyata jalan ini tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan ilmu dan amal. Langkahnya harus menempuh tanjakan-tanjakan batin dan penyucian diri untuk mengkondisikan kesiapan batin, kemudian mengisinya dengan zikir kepada Allah SWT.””Bagiku, ilmu lebih mudah daripada amal. Maka aku pun segera memulai perjalanan spiritualku dengan mempelajari ilmu para sufi terdahulu, membaca karya-karya mereka. Antara lain Quth al-Qulib karya Abu Thalib Al-Makki dan karya-karya Haris Al-Muhasibi. Juga ucapan-ucapan Junaid Al-Bagdadi, Asy-Syibli, Abu Yazid Al-Busthami

 

Sepertinya Imam Ghazali mengalami ekstase dan berjumpa dengan para pendahulunya itu secara rohani, ketika beliau mengatakan :”Penjelasan lebih jauh kudengar sendiri dari lisan Al-Makki, Al- Muhasibi, Al- Junaid, As-Syibli dll”.

Mengenai praktek tasawuf, beliau menyatakan, ada hal-hal khusus yang hanya dapat dicapai dengan dzauq ( perasaan ) dan pengalaman batin.

 

“Sangat jauh jika bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar tentang arti mabuk, meskipun yang mengalaminya mungkin belum pernah mendengar teori mabuk. Maka mengetahui arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.”

 

Baginya, perjalanan spiritual seseorang hakikatnya merupakan upaya menjernihkan hati secara berkesinambungan hingga mencapai tingkat musyahadah ( saling menyaksikan ) dengan Allah SWT. Menurut Imam Ghazali :

 

Kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : tobat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat dan ridha. Karena itu seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih.

 

Wafatnya Imam Ghazali

 

Al Imam Ghazali wafat di Thus pada hari senin 14 Jumadil Akhir tahun 505 H (1111 M ), pada usia 55 tahun. Abu al Faraji bin al Jauziy dalam kitab qan Nabat inda al Mamat berkata :

 

”berkata Imam Ahmad, saudara lelaki Al Ghazali : Ketika itu hari senin, waktu shubuh, saudara lelakiku Abu Hamid, melakukan Wudlu, shalat dan berkata :

 

“Beri aku kain kafan”.

Kemudian dia mengambil dan menciumnya, lalu meletakkan pada kedua matanya, sambil berkata :

”Dengan mendengar dan patuh untuk menghadap sang Raja”.

Kemudian dia menjulurkan kedua kakinya, menghadap kiblat dan wafat sebelum terang tanah. Semoga Allah swt menyucikan ruhnya”.

 

Abu al Mudhaffar Muhammad Abyuwardiy, seorang pujangga termasyhur menggambarkan tentang dirinya dalam berbagai syair, diantaranya :

 

”Berlalu dan hilanglah suatu yang paling agung sehingga aku menjadi kelaparan karenanya. Seorang yang tiada bandingnya dalam manusia, untuk menggantikannya”.

 

Imam Isma’il al Hakimi setelah kematian Imam Ghazali, mentamsilkannya dengan ucapan Abu Tamam dalam bentuk sebuah Syair yang terkenal :

 

“Aku bangga terhadap kesabaranku setelahnya, sementara dia telah meninggal; Sedang aku merupakan seorang yang berderai air mata darah, sedang dia telah tiada. Di atas segalanya hari-hari semuanya telah menjadi keajaiban, sehingga tidak ada lagi di dalamnya berbagai keajaiban”.

 

Imam Al Ghazali dimakamkan di luar kebun Thabiran, yaitu pohon tebu daerah Thus, semoga Allah swt selalu melimpahkan rahmat kepadanya.

 

Pendapat Ulama tentang Imam Ghazali

 

1. Ibnu Al-‘Arabi

 

Dalam kitabnya Ruhul Qudus menyatakan : “bahwa Abu Abdullah bin Zain, asal kota Sevilla,Spanyol, seorang yang budiman, rajin membaca buku karangan Imam Ghazali dan menekuninya. Pada suatu malam dibacanya buku karangan Abu Qasim bin Ahmad yang isinya membantah karangan Imam Ghazali. Ketika itu juga matanya menjadi buta. Ia pun menyesal, sujud dan memohon ampun kepada Allah swt dengan khusyu’, seta bersumpah tidak akan membaca buku Abu Qasim bin Ahmad itu lagi untuk selama-lamanya. Buku itu pun dicampakkannya. Maka matanya dapat melihat lagi.

 

2. Al-Manawi

 

Bercerita : pada suatu hari Ibnu Harazim membaca sebuah kitab kehadapan teman-temannya, seraya berkata :”Tahukah kalian, kitab apa ini? Inilah kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali”

Pada masa itu Syekh Ibnu Harazim mencela Imam Ghazali dan melarang orang membaca Ihya Ulumuddin.

Allah swt menyingkapkan tabir yang membatasi pemandangan mereka, maka dengan idzin Allah swt, mereka melihat Ibnu Harazim disiksa, dipukul dengan cambuk bertubi-tubi.

Dijelaskannya bahwa Imam Ghazali telah mendatanginya dalam mimpi, dan membawanya ke hadapan Rasulullah saw. Sesudah berada di hadapan Rasulullah saw. Imam Ghazali berkata :

”Wahai Rasulullah saw, inilah orang yang mengatakan bahwa apa yang kukatakan dari Rasulullah saw, dia tidak percaya. Katanya itu bukan dari Rasulullah saw.”

Mendengar keterangan itu, Rasulullah saw pun memerintahkan supaya Ibnu Harazim didera beberapa kali. Maka ia pun didera.

( Demikian menurut Al-Yafi’i dari Ibnu Al-Milaqi, dari Al-Mursi, dari As-Syadzali dari Ibnu Harazim )

 

3. Al-Arif Billah As-Syazali

 

Aku pernah melihat Rasulullah saw dalam mimpi, beliau membanggakan Imam Ghazali kepada Nabi Isa dan Nabi Musa.

Beliau bersabda :

 

”Apakah di kalangan Umatmu berdua ada orang seperti Abu Hamid Muhammad Ghazali ?”

Nabi Musa dan Isa menjawab :

”Tidak ada”

 

4. Ahmad Shaiyad

 

Merupakan seorang tokoh terkemuka YAMAN pernah melihat langit terbuka. Dia melihat sepasukan Malaikat turun dari langit, membawa seperangkat pakaian berwarna hijau dan hewan kendaraan. Mereka berhenti di kepala sebuah kuburan dan mengeluarkan jenazah yang ada didalamnya. Setelah memakaikan pakaian tadi, jenazah itu dinaikkan mereka ke atas kendaraan. Kemudian naik ke angkasa menembus 70 hijab. Kata Ahmad Shaiyad :”Aku heran, tercengang, ingin mengetahuinya.” Tiba-tiba terdengar suara Ghaib dari angkas mengatakan :”Inilah Ghazali.”

 

5. Menurut riwayat Al-Manawi, tatkala fatwa Qadhi Iyadh yang isinya supaya kitab :Ihya Ulumuddin” dibakar, sampai kepada Imam Ghazali, maka beliau mendoa’ kepada Allah swt. Ternyata Qadhi Iyadh sesudah itu mati mendadak dalam sebuah kamar mandi.

 

Karya – karya Imam Ghazali

 

1. Ihya Ulumuddin

2. Mizanul Amal

3. Bidayatul Hidayah

4. Kimiyatus Sa’adah

5. Al-Madhunun bih’ala Ghairi Ahlih

6. Misykatul Anwar

7. Al-Ma’ariful ‘Aqliyah wa Lubab bil Hikmatil Ilahiyah

8. Al-Maqshadul Atsna fi Syarh Asmaul Husna

9. Al-Kasyf wat Tabyin fi Ghumrin Nas Ajma’in

10. Ad-Dhuratul Fakhirah fi Kasyf “ulumil Akhirah

11. Minhajul ‘Abidin ila Jannati Rabbil ‘Alamin

12. Al-Munqidz minadl Dlalal

13. Risalah Laduniyah

14. Al-Arba’in fi Ushuluddin

 

Tapi sayang, ketika Baghdad diluluh lantakkan oleh tentara Mongol, karya-karya besar tersebut ikut terbakar habis, termasuk kitab tafsirnya Sirrul ‘Alamain ( Rahasia dua dunia ) yang 40 jilid dan Al-Madhunun bih ‘ala Ghairi Ahlih ( Ilmu yang harus disembunyikan dari yang bukan ahlinya ).

Hanya 48 judul yang berhasil diselamatkan dan ditulis ulang hingga masih dapat dibaca hingga kini. Kitab-kitab yang dapat diselamatkan itu antara lain, Al-Munqidz minadl Dlalal ( pemyelamat dari kesesatan ), Tahafatul Falasifah ( penyimpangan falsafah ), Mizanul Amal, Ihya Ulumuddin, Mahkun Nazar ( mengenal ilmu Logika ), Maqashidil Falasifah.

 

( Dikutip dari Majalah Al-Kisah No.12 / tahun III / 6 – 19 juni 2005 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s