PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH

 

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

Proses kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Aktivitas belajar bagi setiap anak, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.

Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitanya dengan aktivitas belajar,

Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. “Dalam keadaan dimana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, untuk itu di perlukan program bimbingan yang dapat membantu siswa dalam mengatasi hambatan-hambatan yang dialami siswa ketika belajar.

Dalam pelakasanaan bimbingan ini bukan hanya dilakukan oleh guru kelas saja namun juga harus dilakukan oleh semua tenaga pendidik yang ada di sekolah terutama dalam pembentukan sikap.

 

 

 

 

  1. B.     PENGERTIAN

Program bimbingan adalah program yang diperlukan untuk membantu individu di dalam penyesuaian dirinya.

Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudka untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua factor, yaitu : (1) faktor pelaksana atau orang yang akan memberikan bimbingan dan (2) factor-faktor yang berkaitan dengan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi, 1977).

Untuk memenuhi hal ini ada 2 faktor yang diperlukan :

  1. Factor Pelaksanaan
  2. Factor yang berkaitan dengan perlengkapan

Yaitu factor sarana dan prasarana

  1. C.    LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PROGRAM

Langkah – langkah Penyusunan Program ini ada 4 tahap, yaitu :

  1. a.      Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan ini, kita harus mulai mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan yang perlu dan di butuhkan baik sarana maupun prasarana yang ada.

  1. b.      Tahap pertemuan-pertemuan dengan konselor.

Pada tahap ini, kita mempertemukan dengan konselor, guna untuk menyamakan pendapat, tujuan persepsi.

  1. c.       Tahap pembentukan panitia sementara.

Pada tahap ini, kita meyusun panitia sementara agar terbagi tugas-tugas yang jelas sesuai dengan bidang yang di kuasai masing-masing tapi masih sementara, serta sebagai syarat untuk mengutarakan program.

  1. d.      Tahap pembentukan panitia penyelenggara.

Pada tahap ini, Panitia yang sudah terbentuk mulai melaksanakan tugas dalam bidangnya masing-masing, sesuai dengan kettentuan yang sudah disepakati bersama.

 

Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudka untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua factor, yaitu : (1) faktor pelaksana atau orang yang akan memberikan bimbingan dan (2) factor-faktor yang berkaitan dengan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi, 1977).

Langkah-langkah penyusunan program program bimbingan urutannya cukup sederhana yaitu:

1)        Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan sekolah terutama yang ada kaitannya dengan kegiatan bimbingan.

2)        Setelah data terkumpul perlu dilakukan penentuan urutan prioritas kegiatan yang akan dilakukan, dan sekaligus menyusun konsep program bimbingan yang akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

3)        Konsep program bimbingan dibahas bersama kepala sekolah bila perlu dengan mengundang personel sekolah untuk memperoleh balikan guna penyempurnaan program tersebut.

4)         Pelaksanaan program yang telah direncanakan.

5)         Dari hasil evaluasi program tersebut kemudian dilakukan penyempurnaan (revisi) untuk program berikutnya.

 

 

 

 

  1. D.     VARIASI PROGRAM

Menurut variasinya, program bimbingan disekolah dilaksanakan secara berjenjang, hal ini dikarenakan individu yang dibimbing itu bervariasi dan tidak sama tingkatannya, misalkan TK, SD, SLTP. SLTA, PT.

Tidak mungkin seorang siswa SMA di bombing menggunakan metode yang sama dengan anak SD, begitu juga sebaliknya, makan perlu adanya variasi program sesuai dengan situasi, kondisi dan tingkatan dari yang akan di bimbing nanti

Winkel (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingkat pendidikan tertentu, yaitu:

 

  1. Menyusun tujuan jenjang pendidikan tertentu, seperti yang telah dirumuskan.
  2. Menyusuntugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap perkembangn tertentu.
  3. Menyusun pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan.
  4. Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan.
  5. Menentukan bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan, seperti bimbingan kelompok atau bimbingan individual, bimbingan pribadi, bimbingan akademik atau bimbingan karir, dan sebagainya.
  6. Menentukan tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan.
  7. Berdasarkan rambu-rambu tersebut, program bimbingan untuk masing-masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya. Selain itu, program bimbingan hendaknya disesuaikan dengan keadaan individu yang akan dilayani.

 

 

 

 

 

 

  1. E.     TENAGA BIMBINGAN DALAM FUNGSI  MAUPUN JABATAN

Tenaga bimbingan dalam fungsi maupun jabatan ini adalah semua personil sekolah, mulai dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, TU atau Tenaga Administrasi, Penjaga maupun Tenaga lain yang ada di sekolah itu. Semua juga ikut berperan dalam memberikan bimbingan pada individu yang ada di sekolah tersebut.

Pengorganisasian kegiatan Bimbingan dan Konseling adalah bentuk kegiatan yang mengatur cara kerja, prosedur kerja dan pola atau mekanisme kerja kegiatan Bimbingan dan Konseling. Kegiatan Bimbingan dan Konseling dapat berjalan dengan lancar, tertib, efektif dan efisien apabila dilaksanakan dalam suatu organisasi yang baik dan teratur. Adapun pola organisasi Bimbingan dan Konseling di sekolah, dan pola tersebut tidak perlu selalu seragam strukturnya. Setiap sekolah dapat menyusun struktur organisasi Bimbingan dan Konseling sesuai dengan besar kecilnya dan kepentingan sekolah bersangkutan dalam pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling Adapun kewajiban dan tugas personil sekolah yang terkait dengan kegiatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah, yaitu:

Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di sekolah, tugas
kepala sekolah adalah sebagai berikut:

  1. Mengkoordinasi seluruh kegiatan pendidikan yang mencakup kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan di sekolah.
  2. Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling.
  3. Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program Bimbingan dan Konseling.
  4. Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
  5. Menetapkan koordinator guru pembimbing (atas kesepakatan dengan guru pembimbing) yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
  6. Membuat surat tugas guru pebimbing dalam proses Bimbingan dan Konseling pada setiap awal semesteran.
  7. Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan Bimbingan dan Konseling sebagai bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing. Surat pernyataan ini dilampiri bukti fisik pelaksanaan tugas (rencana dan persiapan pelaksanaan, evaluasi, analisis dan tindak lanjut)
  8. Mengadakan kerja sama dengan instansi lain yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan Bimbingan dan Konseling.
  9. Melaksanakan Bimbingan dan Konseling terhadap sedikit-dikitnya 40 orang siswa, bagi kepala sekolah yang berlatar belakang Bimbingan dan Konseling.

 

  1. F.     STRUKTUR ORGANISASI BK

Struktur Organisasi BK antara lain Kepala Sekolah, Guru, Staf, Wali Kelas, Para Siswa.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s