Sayyidina Imam Abu Hanifah Ra

Sayyidina Imam Abu Hanifah Ra

Nama kecilnya Nu’man bin Tsabit. Ayahnya bernama tsabit keturunan Parsi. Beliau dilahirkan di Anbar, Kuffah pada tahun 80 H. kelahirannya agaknya telah diramalkan oleh nabi Muhammad SAW, sebab beliau pernah mengatakan:

 

”Seandainya ilmu pengetahuan ada di bintang tata surya, niscaya akan dicapai oleh putra-putra Parsi”.

 

Gelar Abu Hanifah yang diterimanya adalah karena begitu rajinnya beliau mencatat pelajaran-pelajaran yang diberikan padanya. Hanifah artinya orang yang selalu membawa “Dawat” ( bahasa Parsi = alat untuk mencatat ). Karena selalu membawa Dawat kemana saja beliau pergi, maka beliau dijuluki “Abu Hanifah”.

Di setiap sudut kota, dimana Abu Hanifah mendengar bahwa disitu ada guru besar, pasti didatangi dan berguru kepadanya. Hal itu terus menerus dilakukannya, hingga guru-gurunya mencapai tidak kurang dari 200 orang guru, diantaranya yang terkenal adalah : Imam ‘Atha bin Abi Rabah, Imam Nafi’ bin Umar, Imam Hammad bin Abi Sulaiman, Imam Muhammad bin Al-Baqir dll. Selain dari guru-gurunya tersebut, Imam Abu Hanifah juga senang sekali bergaul dengan para sahabat nabi untuk ilmu mereka, seperti Abdullah bin Harits, Abdullah bin Aufa’ Sahal bin Sa’ad Assa’idi dll, sebab mereka masih hidup di kala zamannya Imam Abu Hanifah.

Pekerjaan sehari-hari Imam Abu Hanifah adalah berdagang. Beliau seorang saudagar sukses yang mempunyai pabrik ubin serta sejumlah took kain di pusat kota Kufah. Sehingga selain ahli ilmu, belajar dan mengajar, Imam Abu Hanifah juga dikenal sebagai saudagar yang sukses. Hampir semua benteng di Baghdad pada masa pemerintahan Al-Manshur, ubinnya adalah buatan pabriknya Imam Abu Hanifah.

 

Kecerdasan Imam Abu Hanifah.

 

Imam Abu Hanifah adalah seorang yang sangat jenius. Segala pertanyaan yang diajukan kepadanya selalu dijawab dengan tepat, ringkas tapi jelas. Suatu ketika ada orang yang bertanya kepadanya :

 

”Bagaimana pendapat anda mengenai keadaan orang ini. Dia adalah orang yang tidak mau mengharapkan surga dan tidak takut kepada neraka. Dia juga tidak takut kepada Tuhan, dia suka makan bangkai, kalau sembahyang tidak mau sujud atau ruku’. Dia percaya kepada sesuatu yang belum dilihatnya, sangat benci kepada kenyataan tetapi suka akan fitnah. Dia suka lari dari rahmat Tuhan dan percaya kepada bangsa Yahudi dan Nasrani.”

 

Imam Abu Hanifah tahu bahwa orang yang bertanya itu adalah orang yang dengki kepadanya dan pertanyaannya hanyalah untuk mengujinya saja. Maka dijawabnya :

”Benarkah kamu tidak tahu?”.

Jawab orang itu :”Demi Allah! Saya tidak tahu!”

Imam Abu Hanifah kemudian menoleh kepada kawan-kawannya :

”Kawan-kawan! Bagaimana pendapat kalian mengenai pertanyaan orang ini ?”

Jawab mereka :

”orang semacam itu tentulah orang yang paling jahat. Semua itu adalah perbuatan orang kafir!”

Namun lain lagi jawaban Imam Abu Hanifah. Beliau berkata :

”Bukan begitu kawan-kawan, itu bukan perbuatan orang kafir, justru orang semacam itu adalah wali Allah sebenarnya!”.

Lalu kepada orang yang bertanya,beliau berkata :

”Jika nanti pertanyaan ini , aku jawab satu persatu, maukah kamu berjanji tidak akan berkata dengan perkataan yang tidak baik lagi?”. “Ya, saya berjanji demikian!”, jawab orang tersebut.

Selanjutnya Imam Abu Hanifah berkata :

 

”Nah dengarlah! Kamu bilang orang itu tidak mengharapkan surga dan tidak takut dengan neraka. Itu betul, sebab yang dia harapkan adalah Tuhan yang mempunyai surga, begitu pula yang ditakuti adalah tuhan yang mengadakan neraka itu. Dan katamu dia tidak takut kepada Allah, itu betul, sebab Allah tidak akan menganiaya. Dia Maha Adil. Kalau dia suka makan bangkai adalah makan ikan; Jika dia sembahyang tidak mau sujud dan ruku’, itu betul, sebab dia sedang mengerjakan sembahyang jenazah. Jika dia percaya kepada sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Dia benci kepada kenyataan, artinya dia tidak mau mati. Bukankah mati itu juga kenyataan? Katamu dia suka akan fitnah. Bukankah harta dan anak itu adalah suatu fitnah? Allah telah berfirman : Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah fitnah. Bila dia suka lari dari rahmat tuhan, semua orangpun akan lari bila kehujanan. Bukankah hujan itu merupakan rahmat tuhan. Adapun bila dia percaya kepada kaum Yahudi dan Nasrani, itupun benar. Sebab orang-orang Yahudi mengatakan bahwa orang-orang Nasrani itu tidak benar. Begitu pula sebaliknya, orang-orang Nasrani mengatakan orang-orang Yahudi itu tidak benar!”.

 

Kepribadian Imam Abu Hanifah.

 

Abu Yusuf berkata :

 

”Sebagaimana telah banyak orang menyaksikannya, demikian pula sepanjang pengetahuan saya, bahwa Imam Abu Hanifah adalah orang yang suci, pantang apa yang dilarang oleh syara’ sampai pada larangan yang sekecil-kecilnya. Beliau tidak mau menerangkan soal-soal keagamaan, kecuali yang sudah dikajinya sedalam-dalamnya. Beliau bercita-cita supaya manusia itu taat kepada Allah SWT, jangan ada yang melanggar perintahnya. Imam Abu Hanifah termasuk orang yang tidak bergaul dengan orang-orang yang gila keduniaan. Beliau adalah seorang pendiam dan pemikir, luas pengetahuannya, tidak suka berkata yang tidak bermanfaat. Jika ada orang bertanya mengenai suatu hal, maka dijawabnya dengan mengambil dasar Al-Qur’an dan hadits nabi SAW. Jika tak ada, maka dijawabnya dengan Qiyas, menurut pendapatnya sendiri yang sebaik-baiknya dengan memperbandingkannya dengan hokum-hukum Allah dan Rasulnya. Abu Hanifah adalah orang yang sangat memelihara nama baik pribadinya dan pandai menjaga kehormatan agamanya. Banyak menyumbangkan tenaga, pikiran dan harta benda untuk kepentingan umum. Tidak pernah meminta pertolongan orang lain, tidak mempunyai sifat tamak dan rakus terhadap harta kekayaan. Tidak pernah mengimpat orang lain. Jika membicarakan orang hanya yang baik-baik saja”.

Disamping itu, Abu Hanifah juga terkenal sebagai seorang yang dermawan. Mengenai hal ini, Qais bin Rabi’ menceritakan :

”Imam Abu Hanifah biasa mengirim barang dagangannya ke Baghdad. Dari Baghdad, beliau membeli barang-barang buatan kota itu, lalu dibawanya ke Kuffah. Dari keuntungan perdangannya itu dibelanjakan untuk keperluan guru-gurunya seperti bahan makanan, bahan pakaian, alat-alat rumah tangga dll. Selebihnya berupa uang diberikannya untuk belanja keperluan sehari-hari. Untuk semua ini, Imam Abu Hanifah pernah berkata :”Kalau berterima kasih, jangan berterima kasih kepadaku, tetapi berterima kasihlah kepada Allah SWT. Sebab semua hadiah yang aku berikan kepada kalian ini merupakan kemurahan dari Allah SWT. Dan pada hakikatnya semua itu merupakan peruntungan dari perdagangan kalian juga, sebab apa yang ada di tangan saya ini, hanyalah menjalankan amanat Allah SWT belaka.”

 

 

 

 

Imam Abu Hanifah sebagai seorang Mujtahid

 

Sebagai seorang mujtahid, Imam Abu Hanifah amat mahir berijtihad, berqiyas dan beristihsan. Imam Abu Hanifah senantiasa memperdalam ketiga bidang ini. Demikian pula pada pengikutnya, sehingga bertambah luasnya persoalan-persoalan fiqih dan bertambah banyak sekali jumlahnya. Masing-masing mereka mengadakan gambaran bermacam-macam persoalan dan mencari solusinya dari masing-masing persoalan itu. Dengan demikian cara kerja golongan Imam Abu Hanifah amat berbeda dengan cara-cara ahli fiqih sebelumnya.

Kecemerlangan otak Imam Abu Hanifah di dalam berijtihad, sesekali mendapat rintangan dari seseorang yang dengki yang menuduhnya; bahwa dalam menyampaikan Al-Qur’an, hadits serta Ijma’ Para Sahabat, beliau hanya mengutamakan pendapatnya sendiri saja yaitu Qiyas.

Tuduhan ini disanggah oleh Imam Abu Hanifah sendiri; sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ja’far Asyaizamary, bahwa Imam Abu Hanifah pernah mengatakan pendiriannya tentang qiyas :

 

”Demi Allah, bohong orang yang telah menuduh saya lebih mengutamakan qiyas dan mengesampingkan Al-Qur’an dan Sunnah, apa artinya Qiyas bila sudah ada nash”.

 

Selanjutnya bila Imam Abu Hanifah memberikan Fatwa dengan jalan qiyas, maka beliau selalu berkata :

 

”Inilah pendapat Abu Hanifah. Menurut hemat saya sendiri adalah yang paling baik. Namun jika ada pendapat lain yang lebih baik lagi, pakailah itu.”

 

Meninggal dalam kurungan

 

Suatu ketika Imam Abu Hanifah dipanggil oleh Amirul Mukminin Abu Ja’far Al-Manshur di Baghdad. Abu Ja’far Al-Manshur bermaksud untuk mengangkat Imam Abu Hanifah menjadi Hakim Negara. Namun Imam Abu Hanifah menolaknya. Namun demikian Abu Ja’far tetap memaksanya untuk menerima jabatan itu diatas sumpah. Tetapi Imam Abu Hanifah bersumpah pula untuk tetap menolak jabatan itu.

Rabi’, sebagai orang yang menjabat sebagai pegawai pemerintahan menasehatkan kepada Imam Abu Hanifah untuk mrnerima saja jabatan itu, mengingat Amirul Mukminin telah berkeras dengan sumpahnya. Tetapi Imam Abu Hanifah menjawab :”Amirul Mukmini lebih bisa membayar sumpahnya daripada Aku!”

Karena penolakan Imam Abu Hanifah ini, akhirnya Abu Ja’far memasukkannya dalam penjara, hingga pada suatu hari beliau dihadapkan lagi kepadanya. Abu Ja’far ingin melihat pendiriannya setelah dipenjarakan. Tanya Abu Ja’far :

Apakah tuan tidak setuju dengan pemerintahanku sekarang?”

Jawab Imam Abu Hanifah :

”Semoga Allah memberkati pemerintahan baginda. Ya Amirul Mukminin! Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Janganlah tuanku mengangkat orang yang yang tidak takut kepada Allah menjadi pegawai kepercayaan tuanku. Demi Allah! Saya ini adalah orang yang tidak bisa dipercaya di waktu tenang, apalagi di waktu sedang marah. Sebenarnya saya ini tidak takut menjadi pejabat tuanku, menduduki jabatan itu”

Abu Ja’far berkata :

”Bohong! Tuan satu-satunya orang yang kupandang cakap untuk memegang jabatan tersebut!”.

Jawab Imam Abu Hanifah :

“Kalau tuan menganggap saya ini benar, tadi sudah saya katakan bahwa saya tidak patut untuk memangku jabatan tersebut. Tetapi jika Tuanku menganggap saya ini bohong, bagaimana Tuanku akan mengangkat Hakim tukang bohong? Disamping itu, saya ini hanyalah seorang hamba. Masa orang Arab mempunyai Hakim seorang hamba!”

Karena keteguhan hati Imam Abu Hanifah, akhirnya beliau dimasukkan lagi kedalam penjara. Di dalam penjara, beliau senantiasa dicambuki dengan sepuluh cambukan, selama sepuluh hari lamanya. Ketika Imam Abu Hanifah telah mempunyai firasat bahwa ajalnya sudah dekat, beliau bersujud kepada Allah SWT. Dalam keadaan sujud itulah, Imam Abu Hanifah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah Rabbul ‘Alamin, sebagai tempat kembali segala arwah.

 

Imam Abu Hanifah wafat dalam usia 70 tahun pada tahun 150 H.

 

Murid –murid Imam Abu Hanifah

 

  1. Abu Yusuf

 

Nama sesungguhnya adalah Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari, beliau lahir tahun 120 H dan wafat pada tahuin 193 H. beliau sebenarnya Ahli Hadits, setelah berguru dengan Imam Abu Hanifah, beliau menjadi sahabatmya yang paling utama dan paling berperan di dalam Mazhab Hanafi ini. Beliau mengarang kitab “Al-Kharaj” yang berisi tentang hokum-hukum harta dan pajak. Kitab tersebut telah dicetak berulang kali. Beliaulah yang paling berjasa dalam menyebar luaskan Mazhab Hanafi, sebab beliau menjadi Hakim Agung pada zaman Khalifah Abbassiyah, Harun Ar-Rasyid.

 

  1. Muhammad bin Al-Hasan

 

Beliau seorang Ahli Fiqih yang ulung, dengan segala furu’ dan cabangnya. Dilahirkan pada tahun 132 H dan wafat tahun 189 H. beliau dibesarkan di Kuffah. Beliau selalu mendatangi persidangan Imam Abu Hanifah, meskipun ketika itu beliau masih kecil. Beliau menyelesaikan kuliahnya kepada Abu Yusuf. Beliau mengumpulkan persoalan fiqih Imam Abu Hanifah dan menuliskannya serta mendiktekannya. Beliau menulis tidak kurang dari 6 buah kitab besar.

 

  1. Zafar bin Hudzail

 

Beliau seorang Ahli Qiyas dan Ra’yi, murid setia Imam Abu Hanifah.

 

Kitab-kitab Madzhab Hanafi

 

Dalam perkembangannnya, Mazhab Hanafi berpedoman pada kitab-kitab besar hasil karya pengikut Mazhab tersebut; seperti Abu Yusuf, misalnya, beliau menghimpun fatwa-fatwa dari Mazhab Hanafi yang berisi jawaban dari kejadian-kejadian yang tidak ditemui jawabannya. Dan kumpulan fatwa-fatwa tersebut dinamai oleh mereka dengan “Al-Waqi’at”. Adapun kitab-kitab yang lain diantaranya ialah :

 

Masailul Ushul :

 

  • Al-Mabshuth karangan : Muhammad bin Hasan.
  • Al-Jami’us Shagir karangan : Muhammad bin Hasan.
  • Al-Jami’ul Kabir karangan : Muhammad bin Hasan.
  • As-Sairus Shagir karangan : Muhammad bin Hasan.
  • As-Sairul Kabir karangan : Muhammad bin Hasan.
  • Az-Ziyadat karangan : Muhammad bin Hasan.
  • Al-Kafi karangan : Abu Fadha’ Hammad bin Ahmad
  • Al-Mabshuth karangan : Muhammad bin Muhammad bin Sahl.

 

Masailun Nawadhir :

 

· Dhahirur Riwayah karangan : Muhammad bin Hasan.

· Haruniyat karangan : Muhammad bin Hasan

· Jurjaniyat karangan : Muhammad bin Hasan.

· Al-Mujarrad karangan : Hasan bin Ziad

 

Al-Fatwa Wal-Waqi’at :

 

· An-Nawazil karangan : Abdul Laits Samarqandi.

 

Daerah penyebaran Mazhab Hanafi :

 

Daerah pusat Mazhab Hanafi adalah di tempat tumbuhnya, yaitu Kuffah, sebagai ibu kotaIraq masa itu. Sekitar tahun 400 H , Mazhab Hanafi telah berkembang ke berbagai Negara, diantaranya : Syiria, Afganistan, Khurasan, Mesir, Afrika, Algeria, Tunisia, Libya, Kaukasus, Turki, Balkan, India dan Brazilia.

 

Dasar pemikiran Mazhab Hanafi

 

  • Al-Qur’an
  • Hadits
  • Ijma’
  • Qiyas (memperbandingkan dengan hokum Al-Qur’an dan Hadits)
  • Isthsan ( memandang baik )
  • Adat istiadat Masyarakat setempat.

 

( Dikutip dari buku “Perjalanan Spiritual 4 Imam Mazhab” dan “Al-Kisah No.08/tahun II/12-25 April 2004 )

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s